Komik Sederhana dan Logat Madura

Banyak kisah unik di balik sosok Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Moh Mahfud MD. Mulai kisah tentang kenakalannya, kesederhanaannya dalam berpakaian hingga logat Madura yang tidak pernah bisa hilang. Di masa kecil, Mahfud dikenal sebagai anak “nakal”. Namun, jangan berpikir kenakalannya bersifat negatif. Pria yang menyelesaikan pendidikan doktor (S-3) di Universitas Gadjah Mada dengan cepat (2 tahun 8 bulan) ini dikenal suka melanggar tradisi masyarakat.

Sebagaimana diungkapkan salah seorang sahabatnya, Akhmad Minhaji, Mahfud di masa remajanya adalah seorang yang “nakal”karena sering melanggar aturan. Di kalangan keluarga santri di Madura, sudah jamak diketahui bahwa memiliki buku bacaan seperti komik bisa dianggap tindakan pelanggaran dan bahkan dianggap “haram”. Sebab secara tradisi buku bacaan yang diizinkan biasanya buku keagamaan. Namun, Mahfud kecil selalu melanggar aturan ini dan sering mencuri waktu dengan membaca banyak komik.

“Mahfud kecil dulu nakal, dia sering baca komik. Padahal tidak boleh dalam tradisi masyarakat kami pada waktu itu,”Minhaji berkisah. Minhaji merupakan salah seorang sahabat terdekat Mahfud. Mantan Pembantu Rektor I (PurekI) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu adalah teman Mahfud sejak duduk di bangku Pendidikan Guru Agama (PGA) Pamekasan Madura. Setara dengan sekolah lanjutan pertama tahun 1970-an. Bahkan Minhaji adalah teman satu kamar di kos-kosan, mulai semasa SMP, pendidikan Hukum Islam Negeri (PHIN, setingkat SLTA) hingga perguruan tinggi. Ketika di PGA dan PHIN, Minhaji juga sekelas dengan Mahfud. Di perguruan tinggi, mereka menjalani kuliah di kampus berbeda, tetapi tetap satu kamar kos.

Mahfud dan Minhaji terpilih sebagai dua anak dari tiga yang terpilih mewakili PGA Pamekasan untuk melanjutkan sekolah ke PHIN Yogyakarta. Karena itu, orang tua Mahfud meminta Minhaji menjaga dan mengawasi polah tingkah Mahfud. Maklum, Minhaji adalah anak kiai di Madura, karena itu orang tua Mahfud sangat memercayainya. Hal ini juga disebabkan Minhaji lebih tua dari Mahfud.“Terkadang dulu kami makan sayur satu mangkuk berdua,”ungkap Minhaji.

Menurut Minhaji, kenakalan Mahfud dalam melanggar aturan tradisi ternyata tidak hanya sebatas membaca komik, kata salah seorang temannya yang akrab di panggil klien. Lulusan strata 1 (S-1) Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) serta Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Gadjah Mada Jurusan Sastra Arab ini juga suka menonton ludruk dan ketoprak, seni hiburan yang termasuk tabu di kalangan masyarakat Madura waktu itu. Sebagai sahabat, Minhaji tidak bisa berbuat apa-apa melihat perilaku Mahfud tersebut.

“Ternyata kenakalan Mahfud itu justru berbuah positif bagi dirinya. Sebab komik dan ludruk membantunya memiliki kekayaan imajinasi,”ujar Minhaji yang juga Koordinator Asesor Bidang Agama Badan Akreditasi Nasional untuk perguruan tinggi. Mahfud, kata Minhaji, juga dikenal sebagai orang yang jarang berpakaian rapi. Dia selalu tampil apa adanya. Pendek kata, Mahfud tidak pernah memusingkan diri dengan soal kerapian berpakaian. Namun, kebiasaan itu sontak berubah ketika Mahfud mulai berkenalan dengan Zaizatun Nihayati (Yatie), teman satu kampusnya di UII yang kelak menjadi istri dan ibu dari tiga orang anaknya. Mahfud yang sebelumnya sering mengenakan baju tidak disetrika, begitu kenal Yatie langsung tampil perlente. “Dulu, baju dia (Mahfud) tidak pernah disetrika. Tapi,s etelah ketemu Yatie, dia mau berubah dan menggunakan baju yang sedikit rapi,”papar Minhaji.

Ya, kedekatan Mahfud dan Minhaji sebagai sahabat tak lekang dimakan waktu dan usia. Hingga kini, Ketua MK ini masih sering bertemu dengan Minhaji baik untuk silaturahmi atau curhat. Ketika sedang mengalami masalah atau depresi, biasanya Menteri Pertahanan pada Kabinet Persatuan Nasional di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini datang ke rumah Minhaji,sahabatnya. Mahfud datang biasanya hanya dengan diam, duduk di ruang tamu, tidak berkata apa-apa.

Gelagat ini sangat dikenali Minhaji bahwa sahabatnya itu sedang banyak pikiran. Kalau sudah begitu, Minhaji pun sering membiarkan apa yang dilakukan Mahfud. Setelah merasa tekanan pikirannya reda, kemudian Mahfud beranjak pergi dari rumah Minhaji. “Dia sering seperti itu. Hanya datang duduk, diam, terus kemudian pergi pamitan. Saya pun tidak berani menanyakan masalah yang dia hadapi,”papar Minhaji.

Meski demikian, Minhaji tak henti-hentinya selalu mengingatkan Mahfud agar pria kelahiran Sampang 13 Mei 1957 ini untuk amanah dengan jabatan yang diembannya saat ini. Untuk itulah Minhaji dan kawan-kawan Mahfud lainnya selalu mengingatkan Mantan Menteri Kehakiman dan HAM ini untuk berhati-hati agar tidak terjebak dalam perilaku korupsi. “Saya selalu berkata kepadanya, ‘Fud saya akan bangga kalau kamu tidak korupsi’,”ujar Guru Besar Bidang Hukum UIN Sunan Kalijaga itu.

Satu lagi,ciri khas lain dari Mahfud MD yang tidak bisa hilang adalah logat Madura. Menurut Malik Madani, senior Mahfud di kampus yang juga sering dianggap sebagai penasihat spiritualnya, Mahfud sulit untuk menghilangkan logat Maduranya. Padahal sebagai tokoh nasional yang memiliki kolega serta jaringan nasional dan internasional, seharusnya ketika berbicara Mahfud tidak lagi kental dengan logat Madura.

Lantas, bagaimana sosok Mahfud di mata istrinya, Yatie? Yatie mengatakan bahwa suaminya sejak dahulu menjadi pribadi yang menyenangkan orang. Mahfud juga orang yang sangat disiplin. Dia tidak pernah terlambat mengajar di UII.“Dia tidak pernah korupsi waktu, jika mengajar selalu datang lebih awal. Begitu juga di acara lain,”cerita Yatie.

Sebelum menjadi pejabat negara dan tinggal di Yogyakarta, Mahfud selalu meluangkan waktu magrib untuk salat bersama keluarga. Kini walaupun waktunya tidak seleluasa dulu, Mahfud tetap sering berkumpul di waktu luang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel