Korban Bencana Longsor

Musibah longsor menimpa sekitar 50 rumah penduduk di kaki bukit Gunung Tilu di Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, sekitar pukul 08.00 WIB kemarin. Lebih dari 60 orang diduga tewas tertimbun longsoran. Kebanyakan korban adalah keluarga dari para pekerja perkebunan teh PT Kabepe Chakra yang tinggal di Afdeling Dewata. “Semua rumah di sana keluarga pekerja perkebunan teh Dewata. Lokasi itu merupakan pusat aktivitas atau ‘kotanya’ di perkebunan Dewata,” kata Staf Tramtib Kecamatan Pasirjambu Kusnadi ketika dihubungi dari Bandung kemarin. Berdasarkan laporan dari aparat Desa Tenjolaya, kata Kusnadi, bukit yang longsor setinggi 300 meter dengan lebar 100 meter. Warga setempat biasa menyebut bukit itu sebagai Gunung Tilu.

Longsoran menimpa sekitar 50 rumah penduduk, sebuah GOR, sebuah kantor perkebunan teh, bangunan koperasi karyawan, serta sebuah bangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) Perkebunan Dewata. Lokasi yang tertimbun di RW 18 Desa Tenjolaya diperkirakan mencakup tiga RT. Menurut klien, lokasi yang terkena longsoran tersebut merupakan kawasan “teramai” di perkebunan itu. Selain sebagai tempat tinggal, di lokasi itu juga terdapat sebuah sekolah dasar (SD).

Lokasi longsor ini sulit dijangkau. Untuk menuju ke sana dibutuhkan waktu tiga jam dari ibu kota Kecamatan Pasirjambu.“ Kondisi jalannya aspal, tapi sudah rusak. Kendaraan yang melintas harus prima karena medannya cukup berat,” kata Kusnadi. Hingga kemarin petang, jumlah pasti korban longsor ini masih simpang siur. Menurut Kepala Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Kabupaten Bandung, Sofyan Nataprawira, korban tewas diperkirakan bertambah menjadi 72 orang, lima di antaranya sudah ditemukan. Sebelumnya, sumber lain mengatakan korban tewas 60 orang.

“Korban yang belum ditemukan sebanyak 67 orang, mereka berada di area perkebunan, permukiman, kantor,dan pabrik,”kata Sofyan. Berdasarkan laporan yang diterima Sofyan, sebanyak 47 orang masih tertimbun di kawasan perkebunan, 10 orang di kantor perkebunan, dan 15 orang berada di dalam pabrik Perkebunan Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. “Lima orang di antaranya telah ditemukan, tapi tim kesulitan untuk melakukan pencarian korban lain karena medan berat yang berada di antara perkebunan dan hutan sehingga alat berat sulit mencapai lokasi,”katanya. Menurut dia, longsor yang terjadi sekitar pukul 08.00 WIB itu diperkirakan di perbukitan sehingga hampir seluruh kawasan perkebunan dan perkantoran setempat tertutup longsoran tanah.

“Kami juga kesulitan mendapatkan laporan karena tidak adanya sinyal telepon seluler di wilayah itu,”katanya. Jarak dari ibu kota Kabupaten Bandung, Soreang, menuju Desa Tenjolaya sekitar 45 km ke arah selatan sehingga jarak tempuhnya diperkirakan tiga jam perjalanan.

Dari Bandung, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menginstruksikan tim tanggap darurat Pemprov Jawa Barat yang dikoordinasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPBD) untuk segera membantu evakuasi korban longsor. Menurut Gubernur, lokasi longsor di Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung sulit dijangkau. “Tim evakuasi dari BNPBD Jabar, Polda Jabar,TNI,Tagana (Taruna Siaga Bencana), dan PMI sudah bergerak dan masuk ke lokasi bencana longsor,” kata Ahmad Heryawan di Bandung kemarin.

Jalan untuk menuju kawasan itu cukup berat dan berkelok-kelok. Meski medan jalan sulit, pihaknya telah mengirimkan bantuan bagi warga, termasuk melakukan penanganan darurat terhadap pengungsi. Dia mengakui, hingga Selasa malam belum mendapat informasi korban jiwa dan jumlah pengungsi akibat peristiwa longsor dari Gunung Tilu tersebut.“Akses komunikasi sulit.Tim kami yang meluncur ke lokasi belum bisa dihubungi,” kata Ahmad Heryawan seraya menambahkan bahwa hari ini akan berkunjung ke lokasi bersama Wapres Boediono. Untuk evakuasi korban, Polres Bandung mengerahkan sekitar 400 personelnya.

Mereka bahumembahu bersama anggota TNI dan masyarakat setempat. Bantuan tenaga evakuasi juga datang dari Tagana Kabupaten Bandung dan PMI Kabupaten Bandung. “Sebagian personel Tagana digeser dari penanganan musibah banjir di Kabupaten Bandung,”kata Koordinator Tagana Kabupaten Bandung Dadan Wahidin. Tagana Kabupaten Bandung juga membawa bantuan berupa tenda dan dapur umum yang akan dibangun di lokasi bencana di Pasirjambu. “Kami masih melakukan koordinasi dan kontak dengan tim pendahulu yang sudah sampai di Pasirjambu. Kami harus menyiapkan personel karena medannya lebih berat dibandingkan bertugas di lokasi banjir,”kata Dadang.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), topografi kawasan longsor itu rata-rata memiliki lereng berkemiringan cukup ekstrem dan terdiri atas batuan vulkanik lepas yang rentan longsor.“Kawasan Pasirjambu menurut peta PVMBG pada Februari 2010 berstatus kawasan rentan gerakan tanah menengah tinggi,” kata Kepala PVMBG Soerono. Kawasan Ciwidey, Pasirjambu, Pangalengan, Cililin, lanjut dia, memiliki kemiringan yang rentan gerakan tanah.

Lapisan tanah di lokasi longsor Pasirjambu yang terletak di Perkebunan Teh Dewata terdiri atas lapisan gunung api tua atau vulkanik lepas yang subur dan gembur. Meskipun banyak ditanami teh,lokasi perkebunan teh di kemiringan tidak kuat karena akarnya tidak mencengkeram kuat. Kawasan perkebunan di Bandung Selatan memiliki karakter tanah yang gembur dan lepas. PVMBG mengimbau tim evakuasi dan masyarakat yang membantu pencairan korban untuk mengantisipasi dan waspada terhadap longsor susulan. Surono menyebutkan, Tim PVMBG akan diturunkan ke lokasi longsor Pasirjambu. Tim bergeser langsung dari Garut ke Pasirjambu.

“ Tim Pengamat Gerakan Tanah dari PVMBG semuanya sudah tersebar di lapangan sehingga kami terpaksa menarik tim yang bertugas dari pengamatan retakan tanah di Gunung Cakrabuana ke Pasirjambu,” kata Surono. PVMBG mengimbau masyarakat yang berlokasi di kawasan rawan gerakan tanah seperti di bawah tebing dengan kemiringan yang ekstrem untuk waspada dan mengungsi bila terjadi hujan deras di kawasan itu. Surono menambahkan,hingga 16 Februari 2010 lalu tercatat 33 kejadian gerakan tanah longsor dan banjir bandang di Indonesia dan 21 kejadian di antaranya terjadi di Jawa Barat. Jabar merupakan kawasan paling rawan gerakan tanah pada musim penghujan kali ini yang diprediksi berlangsung hingga Mei 2010.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel