Memoles daerah miskin menjadi emas

Miskin, kering, dan terbelakang. Tiga kata itu tepat untuk menggambarkan kondisi Kabupaten Lamongan sekitar 10 tahun silam. Kini, dengan sentuhan tangan dingin Bupati Lamongan Masfuk selama hampir dua periode kepemimpinannya, Lamongan menjelma menjadi daerah yang patut diperhitungkan. Berbagai prestasi gemilang terukir, dari pertumbuhan ekonomi, pariwisata, perdagangan, investasi, pengurangan angka kemiskinan, hingga naiknya indeks pembangunan manusia (IPM). Parameter pembangunan di Lamongan bisa dilihat dari berbagai aspek. Antara lain menurunnya angka kemiskinan.Menurut data Pemerintah Kabupaten Lamongan,jumlah rumah tangga miskin (RTM) turun dari 111.809 tahun 2005 menjadi 84.694 pada 2008, atau turun sekitar 24, 25%.

Ini merupakan angka penurunan kemiskinan tertinggi di Jawa Timur. Selain itu,Lamongan mampu menaikkan peringkat IPM dari kategori menengah bawah menjadi menengah atas. Pada 2006, IPM warga Lamongan hanya 65,99, meningkat 66,72 pada 2007. Data terakhir, 2008,mencapai 67,75.Angka IPM dihitung berkisar antara 0–100. IPM ini menunjukkan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan,dan kesejahteraan masyarakat. Demikian juga pendapatan asli daerahnya (PAD).

Total PAD Lamongan tahun 2009 mencapai sekitar Rp111 miliar.Padahal, pada 2000 lalu, sebelum dipimpin Masfuk,PAD Lamongan sekitar Rp6 miliar. Capaian yang cukup signifikan untuk ukuran daerah sekelas Lamongan. Masfuk, pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair), Surabaya,ini ingin membuktikan bahwa kini Lamongan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata, sebagai daerah dengan citra miskin. Daerah yang dulunya sangat lekat dengan sebutan miring: ”Ketigo ora iso cewok, rendeng ora iso ndodok (Ketika musim kemarau warganya tidak bisa cebok, bila musim hujan tidak bisa duduk—karena banjir).” ”Itu dulu. Sekarang tidak lagi. Sindiran itu menantang saya untuk mencoba mengatasinya. Sekarang kondisinya tidak seperti itu.

Harapan saya,bagaimana Lamongan ini menjadi daerah yang tidak diejek lagi,tapi justru menjadi daerah yang diminati warga masyarakatnya, juga orang luar,”katanya. Salah satu master piece pembangunan yang cukup fenomenal adalah bidang pariwisata dengan dibangunnya Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan Maharani Zoo and Cave di wilayah pantai utara (pantura).”Dulu ketika merancang ini (WBL), saya dianggap gila. Bupati aneh. Nggakmungkin. Orang nggak tahu prinsip saya yang tidak bisa dilakukan manusia itu hanya menghidupkan orang mati saja,”urainya. Kini orang dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke Lamongan.

Bahkan tidak hanya berwisata,investor lokal maupun asing juga berinvestasi di sana. Adanya WBL itu mendorong perekonomian di sektor lain.Dari tumbuhnya industri-industri kecil seperti kerajinan tangan, warung, sampai tempat parkir bisa mengangkat perekonomian masyarakat. Kini, jumlah kunjungan WBL mencapai 1,8 juta orang per tahun.

Bahkan, dalam kurun waktu hanya tiga tahun WBL sudah break event point (BEP).”Kini kami tinggal menarik untungnya. Yang kita lakukan itu membuat orang Lamongan terhenyak. Tidak terpikirkan kalau jadinya begitu. Itu bukan hanya mereka,saya sendiri juga surprise!”ungkapnya. PAD kotor dari sektor ini saja bisa mencapai Rp10 miliar per tahun. Namun angka tersebut sebagian masih harus digunakan untuk pengembangan kawasan wisata itu.Sebutlah misalnya pembangunan Maharani Zoo and Cave yang menelan biaya miliaran rupiah.” Kami bisa mendatangkan binatang dari Afrika melalui pesawat. Kalau kami hanya berpikir under developing country, rapatnya saja bisa bertahun-tahun.

Sekarang orang pada kaget karena pengunjungnya bukan hanya dari Jawa Timur,tapi juga Jawa Tengah, luar pulau, Jakarta, semua datang ke sana,”katanya. Menurutnya, investor tidak mungkin bisa tenang jika suasananya tidak aman. Terbukti setelah WBL berkembang pesat investor dalam dan luar negeri berdatangan. Kini di kawasan utara Lamongan berdiri berbagai pusat perekonomian. Ada Lamongan Integrated Shorebase (LIS), pusat pangkalan peralatan perminyakan yang melayani kawasan Indonesia Timur, kata seorang klien pabrik industri. Pembangunan LIS juga menggandeng investor yang uniknya tetap milik pemerintah setempat.”Itu tidak bisa diutakatik,” katanya. Ini merupakan proyek jangka panjang.

Nantinya, seluruh peralatan perusahaan perminyakan dari berbagai negara yang menyuplai kebutuhan industri perminyakan di kawasan Indonesia Timur akan singgah di LIS.”Jadi orang-orang di dunia tahu bahwa di Lamongan itu ada shorebase.Filosofinya sama dengan membangun Jembatan Suramadu. Jembatan Suramadu itu dibangun bukan dengan dilihat berapa satu hari (nilai) karcisnya? Kapan kembali uangnya? Tidak bisa seperti itu. Tapi multiplier effect-nya itu yang harus diperhatikan,” katanya. Di kawasan tersebut juga muncul perusahaan dockingkapal.Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, pun membuat laboratorium perkapalan di sana.

Dibangun pula Pelabuhan angkutan sungai, danau dan penyeberangan (ASDP).Nantinya penumpang kapal yang masuk ke Jawa Timur melalui Lamongan. Kemudian muncul proyek Pelabuhan Ikan Samudera di Kecamatan Brondong.Dari pelabuhan itu ikan dari Lamongan bisa langsung ekspor ke berbagai negara di dunia. Ada juga proyek Pelabuhan Rakyat dan Pelabuhan LIS. Dibangunnya pelabuhan itu secara otomatis akan menumbuhkan perekonomian.”

Kenapa di wilayah utara ini kita buka, saya berpandangan kalau rumah itu terbuka, ada orang masuk. Kalau rumah tertutup, yang di dalam tidak tahu luar,yang di luar tidak mau masuk ke dalam. Semuanya kita buka.Ada perusahaan minyak,pembuatan kapal, juga pelabuhan,”kata Anggota Majelis Pertimbangan Kadin Jawa Timur (2009–2014) ini. Di wilayah selatan,selain dibangun perusahaan sarbitol,juga dibangun Rumah Sakit (RS) Ngimbang. Rencananya juga ada proyek jalan tol. Bahkan dalam perencanaan jangka panjang akan dibangun bandar udara berskala internasional.” Itu luasnya 2.000 hektare. Ini proyek nasional, tapi tempatnya di Lamongan, sehingga harus ada sinergi antara pusat, provinsi, dan kabupaten,”katanya. Lalu di wilayah tengah Lamongan dijadikan pusat perdagangan.

Di sana dibangun Plasa Lamongan dan dikembangkannya Pasar Babat.”Infrastruktur jalan dan persediaan air bersih juga kami bangun,”ungkapnya. Kepada Seputar Indonesia,pria yang pernah menjabat sebagai anggota DPR RI (1999–2000) ini menjelaskan kiat-kiat suksesnya. Apa yang dicapai saat ini tak lepas dari sinergi antara masyarakat dan aparat. Juga sinergi antara pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat.

Dia mencontohkan, di bidang pertanian, selain meningkatkan produktivitas pertanian dengan meningkatkan wawasan petaninya, juga menyiapkan ketersediaan air untuk irigasi dengan mengeruk 167 waduk.”Tekniknya unik. Kita punya alat backhoe, tetapi biayanya oleh masyarakat sehingga partisipasi masyarakat tinggi. Ini teknik mempercepat pembangunan di tengah kekurangan anggaran pemerintah,”katanya. Meningkatnya produktivitas pertanian itu juga dibarengi dengan ketersediaan pasar (market). Sebagai penghasil padi terbesar di Jawa Timur,Lamongan membangun pasar induk beras.”Surplus padi kami sekitar 673.000 ton. Total produksi hampir 1 juta ton, sekitar 980.000-an ton. Kami selalu mendorong peningkatan produktivitas,juga mendirikan sentra-sentra market,”paparnya.

Sebagai daerah penghasil jagung nomor tiga dan kedelai nomor lima di Jawa Timur,Lamongan juga membangun pasar induk agrobisnis untuk pemasaran palawija. Kini juga sedang digarap pabrik sorbitol di Ngimbang untuk mengolah saripati jagung yang luas pabriknya 80 hektare. Produk jagung nantinya diproses menjadi sorbitol untuk ekspor. Lamongan adalah daerah dekat laut dan banyak lahan tambaknya. Karena itu sektor perikanan juga dapat perhatian khusus. Pusat- pusat perdagangan ikan disiapkan.

Ada pasar ikan hasil tambak, juga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong untuk hasil tangkapan laut.Bahkan kini ada investor dari Malaysia yang masuk untuk membangun pabrik pengolahan ikan (cold storage). Dengan begitu,kata Masfuk, kesejahteraan nelayan akan meningkat karena harga ikan tidak lagi bisa dimain-mainkan tengkulak. Nelayan bisa langsung menjual ikan langsung ke pabrik.”Seluruh aspek yang berkaitan dengan produksi kita sediakan pasarnya.

Produksi oke,marketoke,” urainya. Pejabat yang juga seorang pengusaha ini mengatakan, kunci kelangsungan hidup berkepanjangan, masyarakatnya harus pandai berproduksi, juga pemasarannya.” Kalau produksi saja orang mudah diempas suasana dan keadaan tertentu,”cetusnya. Pria yang pernah menjadi pembina Kadin Jawa Timur ini menambahkan,sebenarnya daerah lain juga bisa dikembangkan karena hampir seluruh wilayah Indonesia subur. ”Kenapa Pakistan dan India selalu bertempur,itu karena berebut Kashmir.Nah,Indonesia itu seluruhnya Kashmir.

Semuanya subur. Itu pikiran saya. Artinya Indonesia ini dalam kacamata saya negara yang besar dan letaknya strategis,”urainya. Kunci sukses lainnya yaitu bagaimana bisa menyosialisasikan program-program pembangunan kepada masyarakat. Dengan begitu,sinergi bisa terbangun. Menurutnya, semua daerah pasti bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.”Filosofi saya, Indonesia kaya raya.

Kita mampu. Kita berprinsip semua manusia itu bisa melakukan apa pun.Yang tidak bisa dilakukan manusia itu hanya satu,menghidupkan orang mati. Allah tidak akan mengubah apa-apa yang ada pada suatu kaum hingga kaum itu mengubah apaapa yang ada pada diri mereka,” katanya menyitir ayat suci Alquran.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel