Mutiara Hitam

Persipura Jayapura membuka peruntungan negatif di penyisihan Grup F Liga Champions Asia (LCA) 2010. Tim berjuluk Mutiara Hitam itu ditaklukan klub Korea Selatan (Korsel) Jeonbuk Hyundai Motors dengan skor 1-4 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) tadi malam. Ini berarti Persipura gagal merevisi kutukan empat tahun terakhir klub asal Indonesia yang selalu gagal pada laga perdana kompetisi paling elite antarklub Asia ini. Jeonbuk mengawali peruntungannya melalui eksekusi penalti gelandang Kim Seung Yong pada menit ke-15.Wasit asal Singapura Abdul Malik Bin Abdul Bashir langsung menunjuk titik putih setelah gelandang Persipura Ian Louis Kabes menjatuhkan Luiz Henrique di kotak terlarang.

Pamor Mutiara Hitamsemakin kusam setelah striker asal Kroasia milik Jeonbuk Krunoslav Lovrek mencetak hat-trick pada menit ke-26, 66, 81. Mutiara Hitam memperkecil kekalahan melalui aksi Kabes pada menit ke-67 yang sekaligus membayar blunder yang dilakukannya di awal pertandingan. Pelatih Persipura Jacksen F Tiago pun tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Menurutnya, asuhannya kehilangan karakter permainan hampir di sepanjang babak pertama. “Pemain memang terbebani, sehingga tidak kelihatan gaya Persipura yang sebenarnya. Kami kehilangan agresivitas dan mobilitas.

Tapi, kami berusaha membuat perubahan pada babak kedua,” ungkapnya kemarin. Digelontor empat gol membuat Mutiara Hitam tenggelam di dasar klasemen Grup F dengan nilai nol dari satu laga. Sebab, wakil China Changcun Yatai hanya kalah 0-1 dari klub Jepang Kashima Antrlers. Sementara Greeng–julukan Jeonbuk–duduk di singgasana klasemen. “Permainan yang dikembangkan Jeonbuk jauh lebih efektif dan tajam, kata salah seorang yang mengamati jalannya pertandingan. Kami sudah maksimal di babak kedua tapi masih membuat banyak kesalahan. Mereka lebih segalanya. Kami juga tidak diuntungkan oleh kondisi Boaz Solossa yang kurang fit,”tutur Jacksen. Hasil ini semakin menegaskan dominasi sepak bola Korsel atas Indonesia.

Sebab, hasil di LCA menjadi barometer sebenarnya kemajuan sepak bola. Secara kualitas KLeagueLiga Korsel–memang lebih baik dari Djarum Indonesia Super League (DISL). Buktinya kompetisi mereka berada di peringkat 2 Asia dengan nilai 441, unggul enam strip atas DISL yang dapat nilai 296. Status juara LCA musim lalu juga menjadi milik klub Negeri Ginseng Pohang Steelers. “Persipura masih memiliki lima laga lagi. Kami jelas akan maksimalkan peluang yang ada. Persipura tidak mau menjadi bulan-bulanan selama bermain di LCA. Beberapa hari ini kami fokus ke liga. Kami belum memikirkan laga kontra Changcun karena berat, apalagi cuaca di sana sampai minus lima,” terang Jacksen.

Manajer Jeonbuk Choi Kanghee menjelaskan, pemain juga mengalami problem adaptasi. Sebab, cuaca di Jakarta lebih panas dari Korsel. Stamina pemain juga belum pulih sepenuhnya. Namun, apresiasi tetap diberikan bagi perkembangan sepak bola Indonesia. “Ini pertandingan yang sulit karena perbedaan suhu dan kami hanya memiliki waktu penyesuaian tiga hari. Pemain masih lelah. Tapi, kami akhirnya menang. Kunci Jeonbuk adalah dua gol di babak pertama. Kami tetap melihat adanya kemajuan di Liga Indonesia,” ujar Kanghee. Greens juga menepis adanya ketidakseriusan menjalani laga lantaran skuadnya mayoritas didukung amunisi muda. Kanghee juga mengatakan, klub tetap memercayai kemampuan pemain muda lantaran sudah menjalani tahap pembinaan secara bagus menurut jenjang usia. “Klub di Korsel memiliki sekolah sepak bola. Mereka dimatangkan sampai usia 19 tahun pada kompetisi menurut strata umur. Setelah itu, setiap klub akan memberikan promosi bagi empat pemain per musim. Pemain muda umumnya bekerja keras untuk sampai ke tahap itu,”tandasnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel